A.
PENDAHULUAN
Muhammadiyah merupakan organisasi islam
terbesar kedua di Indonesia setelah NU. Pendidikan telah menjadi “trade-merk”
gerakan Muhammadiyah, besarnya jumlah lembaga pendidikan merupakan bukti
konkrit peran penting Muhammadiyah dalam proses pemberdayaan umat islam dan
pencerdasan bangsa. Dalam konteks ini Muhammadiyah tidak hanya berhasil
mengentaskan bangsa Indoensia dan umat islam dari kebodohan dan penindasan,
tetapi juga menawarkan suatu model pembaharuan sistem pendidikan “modern” yang
telah terjaga identitas dan kelangsungannya.
Diskusi tentang pendidikan Muhammadiyah sebagai
salah atu pembaharuan pendidikan islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari
pemikiran para pendirinya. Salah satu tokoh pendidikan Muhammadiyah yang paling
menonjol adalah KH. Ahmad Dahlan. Oleh karenanya penulis akan membahas “Konsep
Pendidikan dalam Perspektif Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari”.
Ketokahan K. H. Hasyim Asy’ari sering kali dicampurkan dalam persoalan
sosial politik. Hal ini dapat dipahami karena sebagian dari sejarah kehidupan
K. H. Hasyim Asy’ari juga dihabiskan untuk merebut kedaulatan bangsa Indonesia
melawan hegemoni kolonial Belanda dan Jepang. Lebih-lebih organisasi yang
didirikannya, Nahdatul Ulama, pada masa itu cukup aktif melakukan usaha-usaha
sosial politik.
Akan tetapi, K. H. Hasyim
Asy’ari sejatinya merupakan tokoh yang piawai dalam gerakan dan pemikiran
kependidikan. Sebagaimana dapat disaksikan bahwa K. H. Hasyim Asy’ari bisa
dikategorikan sebagai generasi awal yang mengembangkan sistem pendidikan
pesantren, terutama di Jawa.
B.
PEMBAHASAN
1.
K. H Ahmad Dahlan
1.1 Biografi KH. Ahmad Dahlan
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1
Agustus 1868 adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera
keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah
seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada
masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang
juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Diwaktu kecil KH. Ahmad Dahlan bernama Muhammad
Darwis, nama Ahmad Dahlan adalah pergantian setelah berangkat untuk menunaikan
ibadah haji di Makkah. Dan KH. Ahmad Dahlan sebelum mendirikan Persyarikatan
Muhammadiyah, Beliau bergabung sebagai anggota Boedi Oetomo yang merupakan
organisasi kepemudaan pertama di Indonesia.
Dengan kedalaman ilmu agama dan ketekunannya
dalam mengikuti gagasan-gagasan pembaharuan islam, KH. Ahmad Dahlan kemudian
aktif menyebarkan gagasan pembaharuan islam ke pelosok-pelosok tanah air sambil
berdagang batik. KH. Ahmad Dahlan melakukan tabliah dan diskusi keagamaan
sehingga atas desakan para muridnya pada tanggal 18 November 1912 KH. Ahmad
Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah. Disamping aktif di Muhammadiyah
beliau juga aktif di partai politik. Seperti Budi Utomo dan Sarikat Islam.
Hampir seluruh hidupnya digunakan utnuk beramal demi kemajuan umat islam dan
bangsa. KH. Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 7 Rajab 1340 H atau 23 Pebruari
1923 M dan dimakamkan di Karang Kadjen, Kemantren, Mergangsan, Yogyakarta.
1.2 Konsep
Pendidikan KH. Ahmad Dahlan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk
menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran
yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada
skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Upaya mengaktualisasikan
gagasan tersebut maka konsep pendidikan KH. Ahmad Dahlan ini meliputi:
1.2.1
Tujuan Pendidikan
Menurut KH. Ahmad Dahlan, pendidikan islam
hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti
luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta
bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut
merupakan pembaharuan dari tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat
itu yaitu pendidikan pesantren dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu
sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih
dan mendalami ilmu agama. Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda
merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak diajarkan agama sama sekali.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan
berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu
yang utuh menguasai ilmu agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia
dan akhirat. Bagi KH. Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum,
material-spritual dan dunia-akhirat) merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan
satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan
pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
1.2.2
Materi pendidikan
Berangkat dari tujuan pendidikan tersebut KH.
Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya
meliputi:
·
Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha
menanamkan karakter manusia yang baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
·
Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk
menumbuhkan kesadaran individu yang utuh yang berkesinambungan antara
perkembangan mental dan gagasan, antara keyakinan dan intelek serta antara
dunia dengan akhirat.
·
Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha
untuk menumbuhkan kesediaan dan keinginan hidup bermasyarakat.
1.2.3
Metode Mengajar
Di dalam menyampaikan pelajaran agama KH. Ahmad
Dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi kontekstual. Karena
pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif,
tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi.
Cara
belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogan, madrasah
Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
Bahan pelajaran di pesantren mengambil kitab-kitab agama. Sedangkan di madrasah
Muhammadiyah bahan pelajarannya diambil dari buku-buku umum.
Hubungan guru-murid. Di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan
otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral.
Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang
akrab.
1.3 Analisis
Dari hasil analisa kami mengenai sosok KH.
Ahmad Dahlan serta pemikiran beliau dalam dunia pendidikan, dapat kami
sampaikan bahwasanya sangat sedikit sekali beliau mewariskan karya tulis untuk
generasi muda kita, sehingga sulit sekali bagi kita untuk menelusuri pemikiran-pemikiran
besar beliau.
Dan dalam dunia pendidikan, ide beliau tentang
memadukan pendidikan model Barat dan Islam menurut kami amat berat resikonya,
karena bila perpaduan tersebut tidak seimbang maka akan menghasilkan output yang
tanggung.
Adapun mengenai materi dan metode yang di
ajarkan dalam pendidikan madrasahnya kami menilai sudah cukup memenuhi segi
afektif, kognitif, serta psikomotorik, sehingga model pendidikannya kami
pandang sudah cukup bagus.
2.
K.H Hasyim Asy’ari (1871-1941)
2.1 Biografi
Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari
lahir pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M di Desa Gedang,
satu kilometer sebelah utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ayahnya bernama Kiai
Asy’ari berasal dari Demak, Jawa Tengah. Ibunya bernama Halimah, puteri Kiai
Utsman, pendiri Pesantren Gedang.
Dilihat dari garis keturunan itu, beliau termasuk putera seorang pemimpin agama
yang berkedudukan baik dan mulia. KH .M. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan
kesepuluh dari Prabu Brawijaya VI (Lembupeteng). Garis keturunan ini bila
ditelusuri lewat ibundanya sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Halimah binti
Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambu bin Pangeran
Nawa bin Joko Tingkir alias Mas Karebet bin Prabu Brawijaya VI. Ada yang mengatakan bahawa Brawijaya VI adalah Kartawijaya atau Damarwulan
dari perkahwinannya dengan Puteri Champa lahirlah Lembu Peteng(BrawijayaVII).
Semenjak masih anak-anak,
Muhammad Hasyim dikenal cerdas dan rajin belajar. Mula-mula beliau belajar
agama dibawah bimbingan ayahnya sendiri. Otaknya yang cerdas menyebabkan ia
lebih mudah menguasai ilmu-ilmu pengetahuan agama, misalnya: Ilmu Tauhid,
Fiqih, Tafsir, Hadits dan Bahasa Arab. Karena kecerdasannya itu, sehingga pada
umur 13 tahun ia sudah diberi izin oleh ayahnya untuk mengajar para santri yang
usianya jauh lebih tua dari dirinya.
Disamping cerdas, Hasyim kecil juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandirian
yang ditanamkan sang kakek, mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri
sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Itu sebabnya, Hasyim kecil selalu
memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mencari nafkah dengan bertani dan
berdagang. Hasilnya kemudian dibelikan kitab dan digunakan untuk bekal menuntut
ilmu.
2.2 Pemikiran pendidikan Hasyim Asy’ari
Hasyim Asy’ari
yang dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, serta banyak
menuntut ilmu dan berkecimpung secara langsung di dalamnya, di lingkungan
pendidikan agama Islam khususnya. Dan semua yang dialami dan dirasakan beliau
selama itu menjadi pengalaman dan mempengaruhi pola pikir dan pandangannya
dalam masalah-masalah pendidikan.
Salah satu
karya monumental Hasyim Asy’ari yang berbicara tentang pendidikan adalah
kitabnya yang berjudul Adab al Alim wa al Muta’allim fima Yahtaj
ilah al Muta’alim fi Ahuwal Ta’allum wama Yataqaff al Mu’allim fi Maqamat
Ta’limih, Pembahasan terhadap masalah pendidikan lebih beliau tekankan pada
masalah etika dalam pendidikan, meski tidak menafikan beberapa aspek pendidikan
lainnya. Di antara pemikiran beliau dalam masalah pendidikan adalah:
2.2.1 Signifikansi Pendidikan
Beliau menyebutkan bahwa tujuan utama ilmu
pengetahan adalah mengamalkan. Hal itu dimaksudkan agar ilmu yang dimiliki
menghasilkan manfaat sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Terdapat dua
hal yang harus diperhatikan dalam menuntut ilmu, yaitu : Pertama,
bagi murid hendaknya berniat suci dalam menuntut ilmu, jangan sekali-kali
berniat untuk hal-hal duniawi dan jangan melecehkannya atau menyepelekannya.
Kedua, bagi guru dalam mengajarkan ilmu hendaknya meluruskan niatnya
terlebih dahulu, tidak mengharapkan materi semata. Agaknya pemikiran beliau
tentang hal tersebut di atas, dipengaruhi oleh pandangannya akan masalah
sufisme (tasawuf), yaitu salah satu persyaratan bagi siapa saja yang mengikuti
jalan sufi menurut beliau adalah “niat yang baik dan lurus”.
Belajar menurut Hasyim Asy’ari merupakan
ibadah untuk mencari ridha Allah, yang mengantarkan manusia untuk memperoleh
kebahagiaan dunia dan akhirat. Karenanya belajar harus diniatkan untuk
mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya untuk sekedar
menghilangkan kebodohan.
Pendidikan hendaknya mampu menghantarkan umat
manusia menuju kemaslahatan, menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan
hendaknya mampu mengembangkan serta melestarikan nilai-nilai kebajikan dan
norma-norma Islam kepada generasi penerus umat, dan penerus bangsa. Umat Islam
harus maju dan jangan mau dibodohi oleh orang lain, umat Islam harus berjalan sesuai
dengan nilai dan norma-norma Islam.
2.2.2 Tugas dan Tanggung Jawab Murid
1) Etika yang harus diperhatikan dalam belajar
·
Membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniaan
·
Membersihkan niat, tidak menunda-nunda kesempatan belajar, bersabar dan
qanaah
·
Pandai mengatur waktu
·
Menyederhanakan makan dan minum
·
Berhati-hati (wara’)
·
Menghindari kemalasan
·
Menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan
·
Meninggalkan hal-hal yang kurang berfaedah.
Dalam hal ini terlihat, bahwa Hasyim Asy’ari lebih menekankan kepada
pendidikan ruhani atau pendidikan jiwa, meski demikian pendidikan jasmani tetap
diperhatikan, khususnya bagaimana mengatur makan, minum, tidur dan sebagainya.
Makan dan minum tidak perlu terlalu banyak dan sederhana, seperti anjuran
Rasulullah Muhammad saw. Serta jangan banyak tidur, dan jangan suka
bermalas-malasan. Banyakkan waktu untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan,
isi hari-hari dan waktu yang ada dengan hal-hal yang bermanfaat.
2) Etika seorang murid terhadap guru
·
Hendaknya selalu memperhatikan dan mendengarkan guru
·
Memilih guru yang wara’
·
Mengikuti jejak guru
·
Memuliakan dan memperhatikan hak guru
·
Bersabar terdapat kekerasan guru
·
Berkunjung pada guru pada tempatnya dan minta izin lebih dulu
·
Duduk dengan rapi bila berhadapan dengan guru
·
Berbicara dengan sopan dan lembut dengan guru
·
Dengarkan segala fatwa guru dan jangan menyela pembicaraannya
·
Gunakan anggota kanan bila menyerahkan sesuatu pada guru.
Etika seperti tersebut di atas, masih banyak dijumpai pada pendidikan
pesantren sekarang ini, akan tetapi etika seperti itu sangat langka di tengah
budaya kosmopolit. Di tengah-tengah pergaulan sekarang, guru dipandang sebagai
teman biasa oleh murid-murid, dan tidak malu-malu mereka berbicara lebih
nyaring dari gurunya. Terlihat pula pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim
Asy’ari lebih maju. Hal ini, misalnya terlihat dalam memilih guru hendaknya
yang profesional, memperhatikan hak-hak guru, dan sebagainya.
3) Etika murid terhadap pelajaran
·
Memperhatikan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain
·
Berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama
·
Mendiskusikan dan menyetorkan hasil belajar pada orang yang dipercaya
·
Senantiasa menganalisa dan menyimak ilmu
·
Bila terdapat hal-hal yang belum dipahami hendaknya ditanyakan
·
Pancangkan cita-cita yang tinggi
·
Kemanapun pergi dan dimanapun berada jangan lupa membawa catatan
·
Pelajari pelajaran yang telah dipelajari dengan continue (istiqamah)
·
Tanamkan rasa antusias dalam belajar.
Penjelasan tersebut di atas seakan
memperlihatkan akan sistem pendidikan di pesantren yang selama ini terlihat
kolot, hanya terjadi komunikasi satu arah, guru satu-satunya sumber pengajaran,
dan murid hanya sebagai obyek yang hanya berhak duduk, dengar, catat dan hafal
(DDCH) apa yang dikatakan guru. Namun pemikiran yang ditawarkan oleh Hasyim
Asy’ari lebih terbuka, inovatif dan progresif. Beliau memberikan kesempatan
para santri untuk mengambil dan mengikuti pendapat para ulama, tapi harus
hati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama.
Hal tersebut senada dengan pemikiran beliau
tentang masalah fiqh, beliau meminta umat Islam untuk berhati-hati pada mereka
yang mengklaim mampu menjalankan ijtihad, yaitu kaum modernis, yang
mengemukakan pendapat mereka tanpa memiliki persayaratan yang cukup untuk
berijtihad itu hanya berdasarkan pertimbangan pikiran semata. Beliau percaya
taqlid itu diperbolehkan bagi sebagian umat Islam, dan tidak boleh hanya
ditujukan pada mereka yang mampu melakukan ijtihad.
2.2.3 Tugas Dan Tanggung Jawab Guru
1) Etika seorang guru
·
Senantiasa mendekatkan diri pada Allah
·
Takut pada Allah, tawadhu’, zuhud dan khusu’
·
Bersikap tenang dan senantiasa berhati-hati
·
Mengadukan segala persoalan pada Allah
·
Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih dunia
·
Tidak selalu memanjakan anak
·
Menghindari tempat-tempat yang kotor dan maksiat
·
Mengamalkan sunnah Nabi
·
Mengistiqamahkan membaca al- Qur’an
·
Bersikap ramah, ceria dan suka menabur salam
·
Menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu
·
Membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas.
Catatan yang menarik dan perlu dikedepankan
dalam membahas pemikiran dan pandangan yang ditawarkan oleh Hasyim Asy’ari
adalah etika atau statement yang terakhir, dimana guru harus membiasakan diri
menulis, mengarang dan meringkas, yang pada masanya jarang sekali dijumpai. Dan
hal ini beliau buktikan dengan banyaknya kitab hasil karangan atau tulisan
beliau.
2) Etika guru dalam mengajar
·
Jangan mengajarkan hal-hal yang syubhat
·
Mensucikan diri, berpakaian sopan dan memakai wewangian
·
Berniat beribadah ketika mengajar, dan memulainya dengan do’a
·
Biasakan membaca untuk menambah ilmu
·
Menjauhkan diri dari bersenda gurau dan banyak tertawa
·
Jangan sekali-kali mengajar dalam keadaan lapar, mengantuk atau marah
·
Usahakan tampilan ramah, lemah lembut, dan tidak sombong
·
Mendahulukan materi-materi yang penting dan sesuai dengan profesional yang
dimiliki
·
Menasihati dan menegur dengan baik jika anak didik bandel
·
Bersikap terbuka terhadap berbagai persoalan yang ditemukan
·
Memberikan kesempatan pada anak didik yang datangnya terlambat dan
ulangilah penjelasannya agar tahu apa yang dimaksudkan
·
Beri anak kesempatan bertanya terhadap hal-hal yang belum dipahaminya.
Terlihat bahwa apa yang ditawarkan Hasyim
Asy’ari lebih bersifat pragmatis, artinya, apa yang ditawarkan beliau berangkat
dari praktik yang selama ini dialaminya. Inilah yang memberikan nilai tambah
dalam konsep yang dikemukakan oleh Bapak santri ini.Terlihat juga betapa beliau
sangat memperhatikan sifat dan sikap serta penampilan seorang guru.
Berpenampilan yang terpuji, bukan saja dengan keramahantamahan, tetapi juga
dengan berpakaian yang rapi dan memakai minyak wangi.
Agaknya pemikiran Hasyim Asy’ari juga sangat
maju dibandingkan zamannya, ia menawarkan agar guru bersikap terbuka, dan
memandang murid sebagai subyek pengajaran bukan hanya sebagai obyek, dengan
memberi kesempatan kepada murid-murid bertanya dan menyampaikan berbagai
persoalan di hadapan guru.
3) Etika guru bersama murid
·
Berniat mendidik dan menyebarkan ilmu
·
Menghindari ketidak ikhlasan
·
Mempergunakan metode yang mudah dipahami anak
·
Memperhatikan kemampuan anak didik
·
Tidak memunculkan salah satu peserta didik dan menafikan yang lain
·
Bersikap terbuka, lapang dada, arif dan tawadhu’
·
Membantu memecahkan masalah-masalah anak didik
·
Bila ada anak yang berhalangan hendaknya mencari ihwalnya.
Kalau sebelumnya terlihat warna tasawufnya,
khususnya ketika membahas tentang tugas dan tanggung jawab seorang pendidik.
Namun kali ini gagasan-gagasan yang dilontarkan beliau berkaitan dengan etika
guru bersama murid menunjukkan keprofesionalnya dalam pendidikan. Hal ini dapat
dilihat dari rangkuman gagasan yang dilontarkannya tentang kompetensi seorang
pendidik, yang utamanya kompetensi profesional.
Hasyim Asy’ari sangat menganjurkan agar
seorang pendidik atau guru perlu memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode
dan memberi motivasi serta latihan-latihan yang bersifat membantu
murid-muridnya memahami pelajaran. Selain itu, guru juga harus memahami
murid-muridnya secara psikologi, mampu memahami muridnya secara individual dan
memecahkan persoalan yang dihadapi murid, mengarahkan murid pada minat yang
lebih dicendrungi, serta guru harus bersikap arif.
Jelas pada saat Hasyim Asy’ari melontarkan
pemikiran ini, ilmu pendidikan maupun ilmu psikologi pendidikan yang sekarang
beredar dan dikaji secara luas belum tersebar, apalagi di kalangan pesantren.
Sehingga ke-genuin-an pemikiran beliau patut untuk dikembangkan selaras dengan
kemajuan dunia pendidikan.
C.
KESIMPULAN
Dari
pembahasan di atas, pemakalah dapat menyimpulkan bahwasanya KH. Ahmad Dahlan
adalah merupakan tokoh pendidikan yang sangat besar jasanya bagi dunia
pendidikan di Indonesia ini.
Ide-ide
yang di kemukakan KH.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan dalam bidang
pembentukan lembaga pendidikan Islam yang semula bersistem pesantren menjadi
sistem klasikal, dimana dalam pendidikan klasikal tersebut dimasukkan pelajaran
umum kedalam pendidikan madrasah. Meskipun demikian, KH. Ahmad Dahlan tetap
mendahulukan pendidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan pendidikan
kemasyarakatan.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Rasyidin,
dkk. 2005. Filsafat pendidikan islam. Ciputat: Ciputat press
Hasbullah.
2006. Dasar-dasar ilmu pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Ihsan,
Hamdani, dkk. 2007. Filsafat pendidikan islam. Bandung: Pustaka Setia
Nata,
Abudin. 2005. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: logos Wacana Ilmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar